untitled

Rabu, 12 Oktober 2011

Loe tau gak? Menurut gue mencintai orang lain tuh menyebalkan. Kenapa? Karena gara-gara gue suka sama orang terus orang itu enggak membalas cinta gue, gue pernah sempat mau bunuh diri di pohon tauge. Akh tapi gak jadi karena kasihan emak gue nanam susah-susah eh malah patah gara-gara gue nyoba bunuh diri. Ok enough flashbacknya! Yang pasti gue benci lihat cowok yang mencintai cewek sampai rela ngorbanin tubuhnya utk tu cewek. Eits...mksdnya sampai rela mati gitu utk tu cewek. Sampai sini dulu nanti gue lnjutin.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Anthony Jr. Cross Part 3 (Final)

Sabtu, 12 Maret 2011

Sesampainya di sebuah rumah yang mewah dan megah, aku dipersilakan masuk.
“Kamu duduk di sini, aku akan membawakan P3K” ucapnya seraya meninggalkanku.
“Mewah sekali rumahnya, apa dia tinggal bersama kedua orangtuanya? Pasti mereka bahagia sekali” pikirku.
Lima belas menit telah berlalu, karena Leona tidak kunjung datang aku tertidur.
Triiit...Triiit, aku tidak peduli dengan dering ponsel itu karena masih mengantuk tapi karena berisik sekali aku pun menjawab ponselku.
“Halo, Anthony di sini!” aku langsung menjauhkan ponselku dari telinga, karena Maurice marah-marah gara-gara aku tidak ada di apartemen.
“Ya, aku segera pulang” akhirku, ku simpan lagi ponselku di saku celana.
“Kamu sudah puas tidur?” tanya Leona kepadaku.
“Ah iya maaf” aku tidak berani memandang ke arahnya, karena wajahnya dekat sekali.
“Oh iya, ini teman-temanku” ku lihat ada beberapa perempuan cantik yang mengelilingiku dengan wajah merah merona. Tunggu, bukannya ini di kamar Leona? Kapan aku ke kamar Leona?
“Tadi aku memindahkanmu ke kamar karena aku takut kalau mama dan papaku salah paham. Maaf tiba-tiba membawamu” jelasnya, mungkin dia lihat aku sedang bingung kenapa aku ada di sini.
“Aku juga minta maaf karena tiba-tiba tertidur dan terima kasih karena sudah mengobati luka ku”
Triiit...Triit, ponselku berdering lagi dan ku angkat.
“Halo, Anthony di sini!” ternyata tuan Frans, wakil tuan Charlie. Beliau bilang aku di suruh menangkap seseorang yang berinisial T, katanya T adalah agennya XIII. Mendengar hal itu, aku bersemangat sekali. Tapi kenapa tuan Frans menghubungiku, bukannnya aku lagi izin sakit. Namun ya sudahlah aku juga bersemangat sekali. Aku langsung mengakhiri pembicaraan dengan tuan Frans.
Tiiiiiiiiiiit..... aku langsung melihat keluar jendela, Maurice sudah datang untuk menjemputku.
“Leona, ini lantai berapa?” tanyaku seraya membuka gorden jendela kamarnya.
“Lantai 2, kenapa?”
“Terima kasih” aku langsung melompat dari jendela kamar Leona, aku tahu ini gila tapi tepat di bawah jendela, mobil kesayanganku sudah menunggu dengan atapnya yang telah terbuka.
BRUKK! Aku mendarat dengan sempurna.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya salah seorang teman Leona.
“Tenang saja” jawabku seraya melambaikan tangan. Aku langsung menyuruh Maurice untuk pergi ke North B Street 7.
“Dia sungguh lelaki yang keren”
Sesampainya di North B Street 7, aku menyuruh Maurice untuk menunggu di mobil. Aku pun langsung masuk ke dalam rumah yang biasa atau bisa dibilang sederhana sekali untuk ukuran seorang agen XIII. Tidak ada penjaga maupun bodyguard. Aku langung menerobos pintu depan.
“Polisi. Diam di tempat semuanya!” ucapku. Lain dari dugaanku ternyata hanya seorang lelaki separuh baya yang sedang berdiri dengan sebuah tongkat.
“Kamu menemukan ku, wahai tuan polisi !” ujarnya.
“Kamu menungguku T, senang sekali aku sudah ditunggu olehmu. Oh ya dimana XIII?”
“Dia sudah tidak bekerja untukku lagi, jadi dia tidak ada di sini”
“Bohong! Kamu kira aku bodoh apa, aku tidak segampang itu percaya sama kamu. Apalagi kamu agen XIII” ujarku seraya menodongkan pistol ke arah lelaki tua itu.
“Aku tidak bohong anak muda” jawabnya. Matanya tidak menampakkan suatu kebohongan, tapi aku tetap tidak percaya.
“Kalau begitu beritahukan aku siapa itu XIII ?” tanyaku dengan tatapan serius.
“Dia sepertimu, tapi dia seorang pelajar SMU” jawabnya sambil berjalan mendekatiku.
“Pelajar SMU? Siapa namanya?”
“Kamu pasti mengenalnya, dia adalah ...”
DORR!
“Apa yang kamu lakukan, Maurice?” tanyaku. Aku benar-benar kaget karena Maurice menembak lelaki tua itu.
“Bukannya dia telah menyakitimu, Anny?”
“Kamu salah... dia” tanganku langsung refleks menonjok wajah Maurice.
“Hei, apa salahku?” tanyanya dengan marah-marah.
“Maaf, kamu kembali saja ke mobil. Aku nanti menyusul” Maurice langsung keluar.
Aku mendekati T yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku bingung kenapa Maurice menembaknya padahal jelas-jelas dia tidak membahayakanku, terus darimana dia mendapatkan pistol itu. Aku langsung menghubungi tuan Frans dan memberi laporan bahwa T meninggal di tempat karena kesalahannya sendiri. Setelah memberi laporan, aku kembali ke mobil dan langsung pulang ke apartemen. Selama perjalanan kami tidak saling bicara.
Sesampainya di apartemen, aku tinggalkan Maurice. Aku langsung masuk ke kamar tanpa menoleh ke arahnya. Ya... tindakanku ini seperti anak kecil, tapi itu semua salahnya kenapa dia menembak sumber informasiku. Sejenak aku memutar otak, aku mulai berpikir lagi tentang kata-kata T ‘dia sepertimu, tapi dia seorang pelajar SMU’ dan aku mengenalnya. Apa mungkin Maurice lah XIII itu? Aku sempat merasa janggal waktu aku bertemu dengannya. Setahu ku XIII itu terkenal akan sadisnya, tidak mungkin dia bisa lolos dari XIII, kecuali dia lah XIII itu. Aah...aku tidak boleh berpikiran macam-macam tentang sahabatku sendiri. Lalu kuputuskan untuk meminta maaf kepada Maurice dengan mengajaknya makan siang besok.
Keesokkan paginya, aku tidak melihat Maurice. Mungkin dia sudah berangkat duluan, aku langsung mengambil roti yang telah dibuatkan Maurice. Setiap pagi Maurice selalu membuatkanku sarapan, bahkan setiap hari dia yang masak. Sebelum dia datang, aku selalu memasak mie instan dan kadang-kadang makan diluar.
Aku langsung keluar dari apartemen dan langsung ke tempat parkir mobilku.
Sesampainya di kantor, aku langsung bekerja seperti biasa. Di sela-sela waktu kerja, ku kirim sms untuk Maurice. Ku ajak dia ketemuan di cafe, tempat biasa kami berdua makan. Setelah aku menyelesaikan semua pekerjaanku, aku langsung pergi ke cafe itu.
Tak lama kemudian aku pun sampai di cafe itu, namun kulihat belum ada tanda-tanda dari Maurice, jadi kuputuskan untuk menunggu. Satu jam, dua jam, dan sudah tiga jam aku menunggu, Maurice belum datang juga. Ku coba untuk meneleponnya namun tidak diangkat.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku segera mengangkatnya dan setelah menerima telepon aku segera bergegas pergi ke South B Street. Ternyata XIII beraksi lagi, Oh My God! Aku terlalu lelah untuk mengejar XIII, karena selama menunggu di cafe aku terus saja digodain tante-tante.
Setelah sampai di South B Street, aku terkaget karena ternyata XIII masih di TKP. Aneh sekali dia.
“Se-sebenarnya siapa kamu?” aku mulai mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. Dia hanya tersenyum.
“Schlacht!” dia menggunakan bahasa German, yang berarti bertarung. Dia langsung memberiku pedang. Aku langsung memahami maksudnya. Aku segera memasang kuda-kuda untuk bertarung. Bertarung dengannya membuatku merasa tertantang dan aku yakin aku pasti menang dengan kemampuanku yang cukup ahli dalam pedang.
Pertarungan berlangsung sengit, sudah 15 menit kami bertarung si XIII sudah terluka parah dan aku merasa aneh kenapa dia tidak menyerangku, apa dia sengaja? Ah, tidak mungkin. Dia pasti ingin membuatku lengah.
Akhirnya dia terpojok juga dalam sudah setengah tidak berdaya.
“Kenapa kamu tidak menyerangku? Apa kamu bodoh?” teriakku.
“Kh... terima kasih, Anny. Aku bersyukur telah mempunyai sahabat sepertimu, aku merasa hidupku lebih berarti...”
“Kamu Maurice?” tanyaku yang memotong pembicaraannya. Dia hanya terdiam. Aku langsung membuka topengnya dan ternyata XIII memang Maurice. Aku tidak percaya.
“Kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku yang seutuhnya tidak percaya dengan kenyataan XIII.
“Dulu bukannya kita selalu bersama, Anny? Ini aku VI (baca : enam), dulu kita sering mencuri bersama. Tapi tidak lama kemudian kamu diasuh sama satpam itu. Aku merasa kesepian, aku pun mencarimu ke tempat satpam itu, tapi kamu dan beliau sudah pindah. Aku ter... kh... terus mencarimu sampai akhirnya aku bertemu dengan T, dia lah yang menyuruhku untuk menjadi XIII dengan imbalan bertemu denganmu Anny. Kh... ternyata benar aku bertemu denganmu, aku senang se...”
BRUUK!
“Maurice! Maurice bertahanlah, aku akan panggil ambulans” Aku segera mengambil ponselku, tapi ditahan sama Maurice.
“Cukup Anny, aku tidak mau berbuat dosa lebih dari ini” ujarnya lemah dan dia langsung pingsan sebelum itu dia membisikkan sesuatu kepadaku.
Tidak berapa lama kemudian, ambulans dan polisi datang. Aku segera menyuruh ambulans untuk membawa Maurice secepat mungkin ke rumah sakit. Tapi, takdir berkata lain. Maurice meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Setelah kejadian itu, aku mendapatkan penghargaan karena telah menangkap XIII. Namun aku membuang penghargaan itu dan aku meninggalkan pekerjaanku yang penting. Aku tidak mau lagi berhubungan dengan siapa pun, aku hanya butuh hidup sendiri. Aku pun berencana pindah ke Italia meninggalkan semua kenangan menyedihkan itu, namun aku masih teringat kata-kata terakhir Maurice “Aku senang bertemu denganmu... Selamat tinggal Anny!”.