Sejak pertama kami menjadi sahabat, aku memintanya untuk tinggal di apartemeku karena aku takut nanti XIII mengintai dia.
Sesampainya di apartemen, dia langsung tertidur di sofa dan aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Triit...Triit, langsung ku angkat ponselku.
“Saya mengerti tuan Charlie!” akhir pembicaraanku dengan tuan Charlie. Sepertinya hari ini aku terlahir kembali, karena tuan Charlie bilang kalau XIII beraksi lagi dan aku harus segera menangkapnya. Memang ini kedengaran aneh tapi aku merindukan aksi XIII. Dengan wajah berseri-seri aku berangkat ke tempat kejadian perkara (TKP), sebelum itu kupeluk Maurice yang sedang tidur pulas. Aku juga tidak tahu kenapa aku memeluk Maurice, bukan berarti aku mempunyai kelainan.
Ternyata TKP nya hanya beberapa blok dari apartemenku dan korbannya seorang wanita yang diduga adalah seorang penghibur malam. Keadaan wanita itu sangat menyedihkan, setelah jantungnya ditusuk perutnya dirobek-robek lalu dadanya disayat membentuk tulisan XIII. Kejadian seperti ini mengingatkanku dengan kisah Jack The Ripper, tapi bedanya kalau si Jack tidak repot-repot untuk menuliskan angka. Segera kuambil kamera digital dari mobil lalu ku foto wanita itu sebagai referensi tentang XIII dan korbannya. Kemudian aku langsung kembali ke kantor untuk melapor tentang kejadian wanita itu dan kembali bekerja.
Tak terasa waktu cepat berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 17.30, aku segera membereskan pekerjaanku dan bersiap-siap untuk pulang.
“Anthony!” kudengar ada seorang wanita yang memanggilku, aku langsung membalikkan badan, ternyata wanita yang memanggilku adalah nona Julie Nearly. Dia beda 5 tahun denganku, umurnya kira-kira 21 tahun.
“Ada apa nona Julie?” tanyaku, karena selama aku bekerja di kantor ini baru pertama kali dia memanggil namaku.
“Aku dengar-dengar kamu tinggal sama anak SMU, pacarmu ya?”
“Bukan, dia sahabatku lagipula dia seorang laki-laki” jawabku seadanya.
“Dia sahabatmu waktu SMP? Kenapa dia bisa tinggal denganmu? Orangtuanya dimana?”
“Kalau mau tahu jawabannya ikutlah pulang denganku” itulah jawaban pasrahku karena dia melemparkan pertanyaan yang aku saja tidak tahu jawabannya.
“Baiklah, sekalian aku mau lihat hidup seorang polisi berumur 16 tahun ini” akhirnya dia pun ikut pulang denganku.
“Selamat datang Anny!” sambut Maurice, ketika aku membuka pintu.
“Terima kasih sudah menyambutku” aku mencium harum makanan.
“Kamu masak Maurice?” tanyaku dan dia menjawab dengan anggukan yang berarti iya.
“Nona Julie, mau sekalian ikut makan?” tanyaku.
“Boleh juga” jawabnya seraya masuk ke dalam apartemenku.
“Siapa wanita cantik itu? Pacarmu?” tanya Maurice dengan berbisik di telingaku.
“Bukan, dia teman sekantorku namanya Julie Nearly” jawabku.
“Berapa umurnya?” tanya Maurice dengan wajah nakalnya.
“Dia beda 5 tahun dariku, kira-kira 21 tahun. Kenapa? Kamu mau menggodanya?”
“Wanita secantik dia sayang untuk dilewatkan”
“Bagaimana dengan nona Merry?”
“Lupakan saja dia” Maurice langsung mendekati nona Julie. Aku baru tahu kalau Maurice adalah seorang playboy.
“Maurice tolong bawakan aku susu hangat dan cemilan ringan ke kamar, hari ini aku mau lembur. Oh ya nanti tolong kamu antarkan nona Julie, kunci mobil ada di tempat biasa” aku langsung masuk ke kamar.
“Dia memang seperti itu, Maurice?”
“Iya, dia selalu lembur di rumah. Aku bawakan ini dulu ke kamarnya”
Tok...Tok, kudengar ada yang mengetuk pintu kamar. “Masuk saja” ternyata yang mengetuk adalah Maurice yang sedang membawa pesananku tadi.
“Taruh aja di atas meja, lalu segera keluar temani nona Julie” ucapku tanpa menoleh ke Maurice.
“Kalau begitu selamat bekerja ya, Anny!” Maurice pun keluar dari kamarku dan aku segera melanjutkan pekerjaanku.
Kira-kira pukul 00.00 aku mendengar seseorang membuka pintu apartemenku, diam-diam aku melihatnya dari balik pintu kamar yang telah kubuka sedikit untuk mengintip. Kulihat ada seseorang yang berpakaian serba hitam dan mengenakan topi hitam serta menggunakan topeng, XIII itu yang terbesit dalam pikiranku. Aku langsung keluar tanpa membawa senjata.
“Apa yang kamu lakukan di apartemenku?” tanyaku, tapi dia tidak menjawab.
Tanpa berpikir panjang, langsung kuambil pisau yang kebetulan ada di atas meja didekatku dan aku langsung menyerang pria yang berinisial XIII itu. Kami bergulat di atas lantai dan disaat dia sudah tidak berkutik lagi, ku sayat topengnya dan sepertinya wajahnya juga terkena sayatan tapi aku tidak peduli. Sayangnya pada saat itu ruangan dalam gelap gulita, jadi aku tidak bisa melihat wajah busuk yang tersimpan di balik topeng itu. Kemudian dalam sekejap keadaan berbalik, aku yang tidak bisa berkutik. Aku pasrah.
“Maaf...” setelah mendengar suara yang sepertinya ku kenal, tiba-tiba aku merasa sudah berada di alam lain.
“Anny! Anny!” aku mendengar suara itu lagi, kubuka mataku perlahan dan aku melihat Maurice yang sudah berseragam lengkap, aku langsung terbangun.
“Bu-bukannya aku sudah meninggal, kenapa aku masih di sini” ucapku.
“Kamu mengigau Anny?” tawanya.
“Se-semalam XIII datang, lalu aku ... akh aku lupa tapi yang pasti dia ada datang” aku tidak bisa mengingat kejadian penting itu, ingatan itu hilang kenapa bisa.
“Mana mungkin, semalam aku tidak mendengar apapun. Mungkin kamu terlalu capek dengan urusan XIII sampai kebawa mimpi. Lebih baik kamu istirahat, biar aku yang minta izin sama tuan Charly”
“Ah iya, mungkin aku terlalu capek. Terima kasih, kamu berangkat dengan mobilku saja. Hari ini aku ingin di rumah saja”
“Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi ponselku ya!”
“Tunggu!” ucapku, dia pun berbalik. “Kenapa wajahmu?”
“Dicakar kucing nona Julie” jawabnya singkat lalu berlalu pergi.
Nona Julie punya kucing? Dia tidak pernah bilang kalau dia memelihara seekor kucing, tapi apa hubungannya denganku, pikirku. Kuambil kacamata, lalu kuhidupkan notebook yang memang selalu ku letakkan di samping tempat tidurku. Ku baca lagi kasus-kasus XIII, ku merasa belum puas dengan berita yang kudapatkan. Iseng-iseng ku buka situs rahasia polisi bagian penyelidikan, walau aku juga dari penyelidikan aku tidak diizinkan untuk membuka situs ini oleh para seniorku. Ternyata isinya kurang lebih tentang XIII dan aku baru tahu bahwa pembunuh berinisial XIII itu sudah ada sejak 15 tahun yang lalu, tepatnya sejak tahun 1979. Aku saja belum lahir. Lalu pada tahun 1994, beritanya sudah tidak terdengar lagi. Ada yang bilang kalau dia sudah meninggal. Kemudian pada tahun 2007 pembunuhan terjadi lagi, caranya sama seperti yang dilakukan pembunuh berantai yang berinisial XIII itu dan sampai sekarang XIII masih menghantui warga Inggris.
“Haaah...bosan di kamar terus, mau pergi mobil dibawa Maurice. Hmm...lebih baik aku jalan-jalan dekat rumah”, gumamku sendiri. Segera aku mandi dan berpakaian rapi, tapi setelah kuperhatikan aku bukannya mirip anak muda malah lebih mirip bapak-bapak. Aku segera masuk ke kamar Maurice yang bersebelahan dengan kamarku, di apartemenku hanya ada 2 kamar. Ku buka lemari pakaian Maurice, sudah kuduga banyak pakaian modis. Ku coba satu-satu dan akhirnya ku memilih baju kaos bergambar spongebob dan blazer abu-abu. Aku pun keluar dari kamar Maurice dan kembali ke kamarku untuk mengambil ponsel dan dompet serta pistol dan lencana polisiku untuk jaga-jaga. Setelah itu, aku keluar dari apartemen dan jalan-jalan ke taman.
Baru kali ini aku merasakan enaknya jalan-jalan ke taman, biasanya kan aku Cuma ke kantor, ke TKP, dan ke sekolah Maurice.
“Tolong...Tolong...!” ku lihat ada seorang perempuan yang sedang dikejar-kejar oleh segerombolan preman, segera ku tolong perempuan itu.
“Mau apa kalian?” tanyaku kepada preman-preman itu.
“Kami ingin perempuan itu menemani kami” jawab salah seorang preman itu. Aku langsung melihat perempuan itu, dia benar-benar ketakutan.
“Dia tidak mau bersama kalian”
“Hei, jangan sok jadi pahlawan kamu!” preman itu langsung menyerangku dengan pisau, nyaris saja wajahku yang sempurna ini tergores pisau itu. Tapi, aku lupa kalau mereka itu banyak. Tanganku tergores dalam oleh pisau itu.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya perempuan itu kepadaku.
“Tenang, aku tidak mudah mati” dalam sekejap preman-preman itu tumbang, mereka tidak tahu kalau aku sudah sabuk hitam di karate dan judo.
“Ma-maafkan kami, jadikanlah kami anak buahmu!” tiba-tiba preman itu bersujud kepadaku.
“Kalian mau menjadi anak buahku?” tanyaku yang tidak percaya. Aku baru tahu kalau preman-preman itu mudah ditaklukan.
“Ya, kami siap menjadi anak buahmu. Kami siap melakukan apapun yang tuan minta”
“Baiklah, aku terima kalian. Sekarang aku minta kalian pergi. Kamu tahu kan apartemen Pigeonny 2000” semuanya mengangguk.
“Kalian nongkrong di sekitar sana, jadi kalau kubutuhkan aku tinggal memanggil kalian” setelah mengucapkan terima kasih, preman-preman itu langsung pergi.
“Namamu siapa?”
“Aku Leona McNefron, benar kamu tidak apa-apa?” tanyanya lagi.
“Aku tidak apa-apa. Oh ya aku Athonny Jr. Cross. Aku pulang dulu ya, mau obati tanganku”
“Tu-tunggu, biar aku yang obati”
“Nona Leona, anda tidak apa-apa?” tiba-tiba datanglah seorang pria separuh baya memanggil perempuan yang ku tolong tadi, Leona.
“Aku tidak apa-apa tapi dia terluka gara-gara menolongku” ucapnya seraya menunjuk ke arahku.
“Tuan, terima kasih karena telah menolong nona. Sebagai tanda terima kasih ikutlah bersama kami” karena sudah dibilang seperti itu aku tidak bisa menolaknya, akhirnya aku pun ikut bersama mereka dengan mengendarai limosin. Ternyata Leona adalah seorang nona muda.